jump to navigation

Sejarah

Sebelum berlokasi di Jl. Jend. A. Yani No. 40 A Purwokerto (Kampus saat ini) STAIN Purwokerto (saat itu masih bernama IAIN Sunan kalijaga Fakultas Tarbiyah di Purwokerto) berlokasi di Jl. Jend. Soedirman No. 685 Purwokerto. Dilokasi ini, tempat ibadah -tempat sholat-bagi civitas aka demika menempati salah satu ruangan yang dijadikan sebagai musholla.

Dalam perkembangannya, seiring dengan kemajuan yang dicapai dan tuntutan pengembanga kampus, maka mulai tahun 1978/1979 lokasi kampus di kembangkan ke arah utara kota Purwokerto di Jl. A. Yani No. 40 A Dengan mendirikan kampus baru dengan areal tanah yang jauh lebih luas. Mulai saat ini, perguruan tinggi ini memiliki dua kampus, yaitu kampus di Jl. Jend. Soedirman No. 685 dan di Jl. Jend. A. Yani No. 40 A Purwokerto; yang pada saat ini terkenal dengan sebutan kampus lama dan kampus baru. Meskipun kampus yang ada di Jl. A. Yani No. 40 A Sudah di mulai pembangunannya pada tahun 1978, tetapi pemakaiannya baru dimuali pada tahun 1980; itupun baru dipergunakan untuk aktivitas lembaga bahasa. Kegiatan administrasi lainnya baru mulai ber aktifitas di kampus baru ini, secara bertahap mulai tahun 1983.

Keberadaan kampus di dua tempat ini berlangsung sampai tahun 1995, dimana mulai tahun ini semua kegiatan disatukan di kampus Jl. Jend. A. Yani No. 40 A Purwokerto; sedangkan Jl. Jend. Soedirman No. 685 dilakukan ruilslag dengan pemda kabupaten Banyumas.

Setelah semua kegiatan, baik kegiatan administrasi, akademika, kemahasiswaan dan kegiatan lainnya di satukan di kampus Jl. Jend. A. Yani No. 40 A, tuntutan dan kebutuhan akan adanya tempat ibadah yang “repersentatif” mulai dirasakan oleh segenap civitas akademika.

Dengan diprakarsai oleh Dr. H. Ahmad Moeghofir (dekan fakultas tarbiyah saat itu), pada tahun 1990 mulai dirintis pendirian tempat ibadah (mushola). Pembangunan mushola ini berlangsung secara bertahap, sehingga meskipun dimulai tahun 1990, secara efektif mushola ini baru mulai di gunakan untuk aktifitas peribadatan dan kegiatan keagamaan lainnya pada tahun 1991, pada saat itu belum 100% selesai karena bagian luar terutama bagian serambi atau teras belum selesai. Kegiatan pembangunan baru selesai 100% pada tahun 1992.

Mushola ini kemudian diberinama “mushola Darunnajah Fakultas Tarbiyah Purwokerto”. Tempat ibadah ini di berinama Mushola bukan Masjid di karenakan pada saat itu tempat ibadah ini belum dipergunakan untuk penyelenggaraan sholat jum’at. Hal ini tentunya sangat terkait dengan realitas jumlah mahasiswa yang relatif belum banyak yang berdampak pada kegiatan-kegiatan akademik dan lainnya yang belum sepadat sekarang, terutama setelah berubah status menjadi STAIN. Sedangkan pencantuman fakultas Tarbiah di dalamnya, karna pada saat itu STAIN Purwokerto masih merupakan Fakultas Tarbiyah dari IAIN Sunan KaliJaga Yogyakarta yang ada di Purwokerto.

Seiring dengan perkembangan STAIN Purwokerto, terutama dengan meningkatnya jumlah mahasiswa dan semakin meningkatnya beragam kegiatan akademik, kegiatan sholat jum’at yang semula tidak diadakan di mushola ini, atas dasar masukan dan hasil koordinasi dengan pimpinan STAIN Purwokerto, yang di ketuai Fauzi, M.Ag berprakarsa mengadakan sholat jum’at di mushola Darunnajah dan di ikuti bukan hanya dari kalangan civitas akademika STAIN Purwokerto tetapi juga dari kalangan masyarakat sekitar kampus.

Setelah mushola ini di pergunakan sebagai tempat penyelenggaraan sholat jum’at, mushola ini di rubah secara resmi menjadi Masjid dengan nama “Masjid Darunnajah STAIN Purwokerto”.

Komentar»

1. Nurkholish, M. SI. - Juni 10, 2008

CARA MAKAN RASULULLAH SAW. BY NURISH

“Selera makan dan minum Rasulullah saw. sangat halus. Baginda saw. sangat gemar makan daging tulang, daging leher, daging pinggang dan rusuk. Masakan istimewa orang Arab , sop dimakan bersama roti juga disukai. Madu, cuka, tembikai, timun, labu, mentega dan beras dimasak bersama kacang juga disukai. Nabi saw. juga menggemari memasukkan kurma bersama susu dan mentega. Baginda saw. tidak suka makanan pedas. Makanan manis adalah kegemaran Baginda saw.
Nabi saw. tidak makan makanan yang menyebabkan nafas berbau seperti bawang.Ketika minum ia tidak bersuara dan mengangkat gelas tiga kali dari bibirnya . Setiap kali gelas diangkat ia mengucapkan syukur kepada Allah. Selepas makan Nabi saw. akan membersihkan tangannya dengan membasuh. Baginda saw. menyukai orang -orang duduk bersamanya makan. Apabila dibuatkan sup Nabi saw menyuruh ditambahkan kuah supaya lebih ramai orang dapat merasainya.
Muslim dan Tarmidzi telah meriwayatkan dari An-Nu’man bin Basyir ra. dia berkata: Bukankah kamu sekarang mewah dari makan dan minum, apa saja yang kamu mau kamu mendapatkannya? Aku pernah melihat Nabi kamu Muhammad SAW hanya mendapat korma yang buruk saja untuk mengisi perutnya!
Dalam riwayat Muslim pula dari An-Nu’man bin Basyir ra. katanya, bahwa pada suatu ketika Umar ra. menyebut apa yang dinikmati manusia sekarang dari dunia! Maka dia berkata, aku pernah melihat Rasulullah SAW seharian menanggung lapar, karena tidak ada makanan, kemudian tidak ada yang didapatinya pula selain dari korma yang buruk saja untuk mengisi perutnya.
Suatu riwayat yang diberitakan oleh Abu Nu’aim, Khatib, Ibnu Asakir dan Ibnun-Najjar dari Abu Hurairah ra. dia berkata: Aku pernah datang kepada Rasulullah SAW ketika dia sedang bersembahyang duduk, maka aku pun bertanya kepadanya: Ya Rasulullah! Mengapa aku melihatmu bersembahyang duduk, apakah engkau sakit? jawab beliau: Aku lapar, wahai Abu Hurairah! Mendengar jawaban beliau itu, aku terus menangis sedih melihatkan keadaan beliau itu. Beliau merasa kasihan melihat aku menangis, lalu berkata: Wahai Abu Hurairah! jangan menangis, karena beratnya penghisaban nanti di hari kiamat tidak akan menimpa orang yang hidupnya lapar di dunia jika dia menjaga dirinya di kehidupan dunia. (Kanzul Ummal 4:41)
Ahmad meriwayatkan dari Aisyah ra. dia berkata: Sekali peristiwa keluarga Abu Bakar ra. (yakni ayahnya) mengirim (sop) kaki kambing kepada kami malam hari, lalu aku tidak makan, tetapi Nabi SAW memakannya – atau pun katanya, beliau yang tidak makan, tetapi Aisyah makan, lalu Aisyah ra. berkata kepada orang yang berbicara dengannya: Ini karena tidak punya lampu. Dalam riwayat Thabarani dengan tambahan ini: Lalu orang bertanya: Hai Ummul Mukminin! Apakah ketika itu ada lampu? Jawab Aisyah: Jika kami ada minyak ketika itu, tentu kami utamakan untuk dimakan.
(At-Targhib Wat-Tarhib 5:155; Kanzul Ummal 5:155)
Abu Ya’la memberitakan pula dari Abu Hurairah ra. katanya: Ada kalanya sampai berbulan-bulan berlalu, namun di rumah-rumah Rasulullah SAW tidak ada satu hari pun yang berlampu, dan dapurnya pun tidak berasap. Jika ada minyak dipakainya untuk dijadikan makanan. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:154; Majma’uz Zawatid 10:325)
Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dari Urwah dari Aisyah ra. dia berkata: Demi Allah, hai anak saudaraku (Urwah anak Asma, saudara perempuan Aisyah), kami senantiasa memandang kepada anak bulan, bulan demi bulan, padahal di rumah-rumah Rasulullah SAW tidak pernah berasap. Berkata Urwah: Wahai bibiku, jadi apalah makanan kamu? Jawab Aisyah: Korma dan air sajalah, melainkan jika ada tetangga-tetangga Rasulullah SAW dari kaum Anshar yang membawakan buat kami makanan. Dan memanglah kadang-kadang mereka membawakan kami susu, maka kami minum susu itu sebagai makanan. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:155)
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Aisyah ra. katanya: sering kali kita duduk sampai empat puluh hari, sedang di rumah kami tidak pernah punya lampu atau dapur kami berasap. Maka orang yang mendengar bertanya: Jadi apa makanan kamu untuk hidup? Jawab Aisyah: Korma dan air saja, itu pun jika dapat. (Kanzul Ummal 4:38)
Tarmidzi memberitakan dari Masruq, katanya: Aku pernah datang menziarahi Aisyah ra. lalu dia minta dibawakan untukku makanan, kemudian dia mengeluh: Aku mengenangkan masa lamaku dahulu. Aku tidak pernah kenyang dan bila aku ingin menangis, aku menangis sepuas-puasnya! Tanya Masruq: Mengapa begitu, wahai Ummul Mukminin?! Aisyah menjawab: Aku teringat keadaan di mana Rasulullah SAW telah meninggalkan dunia ini! Demi Allah, tidak pernah beliau kenyang dari roti, atau daging dua kali sehari. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:148)
Dalam riwayat Ibnu Jarir lagi tersebut: Tidak pernah Rasulullah SAW kenyang dari roti gandum tiga hari berturut-turut sejak beliau datang di Madinah sehingga beliau meninggal dunia. Di lain lain versi: Tidak pernah kenyang keluarga Rasulullah SAW dari roti syair dua hari berturut-turut sehingga beliau wafat. Dalam versi lain lagi: Rasulullah SAW telah meninggal dunia, dan beliau tidak pernah kenyang dari korma dan air.
(Kanzul Ummal 4:38)
Dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Baihaqi telah berkata Aisyah ra.: Rasulullah SAW tidak pernah kenyang tiga hari berturut-turut, dan sebenarnya jika kita mau kita bisa kenyang, akan tetapi beliau selalu mengutamakan orang lain yang lapar dari dirinya sendiri. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:149)
Ibnu Abid-Dunia memberitakan dari Al-Hasan ra. secara mursal, katanya: Rasulullah SAW selalu membantu orang dengan tangannya sendiri, beliau menampal bajunya pun dengan tangannya sendiri, dan tidak pernah makan siang dan malam secara teratur selama tiga hari berturut-turut, sehingga beliau kembali ke rahmatullah. Bukhari meriwayatkan dari Anas ra. katanya: Tidak pernah Rasulullah SAW makan di atas piring, tidak pernah memakan roti yang halus hingga beliau meninggal dunia. Dalam riwayat lain: Tidak pernah melihat daging yang sedang dipanggang (maksudnya tidak pernah puas makan daging panggang). (At-Targhib Wat-Tarhib 5:153)
Tarmidzi memberitakan dari Ibnu Abbas ra. katanya: Rasulullah SAW sering tidur malam demi malam sedang keluarganya berbalik-balik di atas tempat tidur karena kelaparan, karena tidak makan malam. Dan makanan mereka biasanya dari roti syair yang kasar. Bukhari pula meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. katanya: Pernah Rasulullah SAW mendatangi suatu kaum yang sedang makan daging bakar, mereka mengajak beliau makan sama, tetapi beliau menolak dan tidak makan. Dan Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah SAW meninggal dunia, dan beliau belum pernah kenyang dari roti syair yang kasar keras itu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:148 dan 151)
Pernah Fathimah binti Rasulullah SAW datang kepada Nabi SAW membawa sepotong roti syair yang kasar untuk dimakannya. Maka ujar beliau kepada Fathimah ra: Inilah makanan pertama yang dimakan ayahmu sejak tiga hari yang lalu! Dalam periwayatan Thabarani ada tambahan ini, yaitu: Maka Rasulullah SAW pun bertanya kepada Fathimah: Apa itu yang engkau bawa, wahai Fathimah?! Fathimah menjawab: Aku membakar roti tadi, dan rasanya tidak termakan roti itu, sehingga aku bawakan untukmu satu potong darinya agar engkau memakannya dulu! (Majma’uz Zawa’id 10:312)
Ibnu Majah dan Baihaqi meriwayatkan pula dari Abu Hurairah ra. katanya: Sekali peristiwa ada orang yang membawa makanan panas kepada Rasulullah SAW maka beliau pun memakannya. Selesai makan, beliau mengucapkan: Alhamdulillah! Inilah makanan panas yang pertama memasuki perutku sejak beberapa hari yang lalu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:149)
Bukhari meriwayatkan dari Sahel bin Sa’ad ra. dia berkata: Tidak pernah Rasulullah SAW melihat roti yang halus dari sejak beliau dibangkitkan menjadi Utusan Allah hingga beliau meninggal dunia. Ada orang bertanya: Apakah tidak ada pada zaman Nabi SAW ayak yang dapat mengayak tepung? Jawabnya: Rasulullah SAW tidak pernah melihat ayak tepung dari sejak beliau diutus menjadi Rasul sehingga beliau wafat. Tanya orang itu lagi: Jadi, bagaimana kamu memakan roti syair yang tidak diayak terlebih dahulu? Jawabnya: Mula-mula kami menumbuk gandum itu, kemudian kami meniupnya sehingga keluar kulit-kulitnya, dan yang mana tinggal itulah yang kami campurkan dengan air, lalu kami mengulinya. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:153)
Tarmidzi memberitakan daiipada Abu Talhah ra. katanya: Sekali peristiwa kami datang mengadukan kelaparan kepada Rasulullah SAW lalu kami mengangkat kain kami, di mana padanya terikat batu demi batu pada perut kami. Maka Rasulullah SAW pun mengangkat kainnya, lalu kami lihat pada perutnya terikat dua batu demi dua batu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:156)
Ibnu Abid Dunia memberitakan dari Ibnu Bujair ra. dan dia ini dari para sahabat Nabi SAW Ibnu Bujair berkata: Pernah Nabi SAW merasa terlalu lapar pada suatu hari, lalu beliau mengambil batu dan diikatkannya pada perutnya. Kemudian beliau bersabda: Betapa banyak orang yang memilih makanan yang halus-halus di dunia ini kelak dia akan menjadi lapar dan telanjang di hari kiamat! Dan betapa banyak lagi orang yang memuliakan dirinya di sini, kelak dia akan dihinakan di akhirat. Dan betapa banyak orang yang menghinakan dirinya di sini, kelak dia akan dimuliakan di akhirat.’
Bukhari dan Ibnu Abid Dunia meriwayatkan dari Aisyah ra. dia berkata: Bala yang pertama-tama sekali berlaku kepada ummat ini sesudah kepergian Nabi SAW ialah kekenyangan perut! Sebab apabila sesuatu kaum kenyang perutnya, gemuk badannya, lalu akan lemahlah hatinya dan akan merajalelalah syahwatnya!
(At-Targhib Wat-Tarhib 3:420).

2. satrio - April 17, 2009

nyong wong banyumas asli,jajal aja mesjid ning stain tapi sejarah mesjid liyane sing ning purwokerto.aja kelalene! please!!!!

darunnajah - April 18, 2009

matur nuwun kang wis mampir nang blogge darunnajah, sejarahe pencen mung sejarah masjid darunnajah sebabe blog iki mung mbahas kegiatan neng Masjid Darunnajah lan sekitar kegiatan kampus STAIN Purwokerto. Saran njenengan dadi pertimbangan kita. Matur nuwun, salam kanggo kanca-kanca kabeh nang banyumas.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: