jump to navigation

Seks Bebas Dalam Cermin Budaya Jawa : Pandangan Kearifan Lokal Terhadap Perilaku Free Sex Januari 25, 2008

Posted by darunnajah in Bincang Islam.
trackback

Pendahuluan

Perbincangan tentang free sex akhir-akhir ini mendapatkan perhatian yang amat tinggi. Di media elektronik seakan dapat disaksikan pada setiap progam infotainment dan dialog-dialog yang ditayangkan oleh stasiun TV. Media cetak juga tidak ketinggalan mengekspos besar-besaran diseputar kehidupan seksual umat manusia ini. Dua peristiwa yang melatarbelakangi terhadap pemberitaan ini adalah dua hal yang berbeda, tetapi memiliki dampak yang luar biasa.

Pertama, video mesum Yahya Zaeni (YZ) dengan Maria Eva (ME). Gegap gempita pemberitaan kasus ini dapat ditemukan dalam Kedaulatan Rakyat. Pada halaman ditulis analisis “Maria Eva Hibur Korban Lapindo” dan menghadiri reuni SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo. 2, Yahya Zaini mendapat sorotan tajam diantaranya karena dia memiliki background sebagai anggota DPR dari fraksi Partai Golkar, mantan aktivis PB HMI, dan koordinator bidang kerohanian Partai Golkar. Sementara itu, Maria Eva yang alumni SMA Muhammadiyah figure.

Kedua, berita poligami K.H Abdullah Gimnastiar atau lebuh dikenal dengan Aa’Gym. Pemberitaan terhadap Aa’Gym diantaranya adalah karena ia seorang mubaligh yang sedang berada diatas puncak popularitas. Sebagai pengasuh Pesantren Daruttauhid Bandung, ia memiliki jaringan radio yang sangat luas diberbagai daerah dan TV Manajemen Qolbu yang sering diajarkan kepada umat. Saat ia poligami menuntutnya untuk melaksanakannya lebih disiplin.

Meskipun dua kasus ini berbeda, tetapi ada benang merahnya, yaitu seks. Yang pertama terkait dengan eksploitasi seks diluar akad pernikahan dan kemudian diekspos keluar, sedangkan yang kedua adalahtentang penyaluran libido seksual yang diikat dalam pernikahan kedua atau poligami. Yang pertama masyarakat seakan sudah ada konsensus bahwa eksploitasi seks tersebut bertentangan dengan agama dan norma budaya bangsa, meskipun hal tersebut diakui wajar dilakukan oleh laki-laki dan perempuan dewasa, karenanya YZ dan ME tetap bisa diterima oleh masyarakat meskipun hukuman sosial dirasakan amat berat. Kasus kedua merupakan ajaran agamayang debatable, diakui sekaligus digugat bahkan ada yang mengharamkan. Realitasnya, poligami secara hukum dan perundang-undangan tetap halal, tidak dilarang oleh undang-undang, dan hanya dibatasi agar tidak terjadi penyalahgunaan, seperti dijadikan alat pemuasan nafsu seksual pelakunya. Meskipun demikian, Aa’Gym telah menerima perlakuan sosial yang luar biasa keras,3, seperti cemoohan dan prlakuan yang lain yang dapat mengurangi kenyaman hidupnya.

Tulisan ini hendak mengkaji tentang kearifan lokal jawa terkait dengan kehidupsn seks. Tulisan ini tidak membahas tentang halal-haram video mesum, dan tidak mengkaji tentang kontraversu di seputar poligami. Kajian difokuskan pada seksualitas masyarakat Jawa.

Binalitas Poltik

Godaan politik bagi orang, meurut orang Jawa adalah harta, wanita, dan tahta. Harta menjadi godaan hidup dalam arti kurang atau bwerlebih menyangkut kesejahteraan ekonomi. Orang dalam kemiskinan rentan terjerumus dalm kekafiran. Orang yang dilanda miskin-papa akan mudah digoda oleh lingkungan sosialnya untuk menggadaikan kehormatannya. Kemiskinan bisa membuat orang tidak menggunakan nalar sehatnya sehingga ia tergoda untuk mencuri, menjual harga diri dengan melacur seksual (PSK), dan melacur politik sebagai broker dan pencundang politik dengan korupsi dan menjual keadilan.

Kesejahteraan berlebih berarti kekayaan yang melimpah. Kekayaan juga akan mampu menggoda seseorang berperilaku aneh seperti berfoya-foya, berlebih-lebihan (isyraf dan tabdzir), berperilaku aniaya terhadap yang miskin, ingin meraih kekuasaan lewat uang dan kekayaan yang dimiliki, maka terjadilah “money politics”, dan berperiku seksual menyimpang atau minus moral dengan mempermainkan lain jenis sebagai pemuas nafsu.

Wanita sebagai penggoda maksudnya adalah libido seksual yang menggelora yang disimbolkan dengan kata wanita. Cinta buta menempatkan nafsu seksual menjadi dominan dan mempengaruhi alur pikir dan kebijakan yang diambil. Nafsu seksual jika telah menjadi orientasi gidup, maka individu tersebut membuat semua keputusan dalam hidupnya merupakan transaksi untuk kepentingan kepuasan diri. Harta dan kekuasan yang semestinya menjadi media untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan komunotas sosialnya sebaliknya dugunakan untuk mendapatkan kepuasan seks kepada siapapun yang diminatinya.

Tahta menggoda seseorang untuk berperilaku lalim terhadap rakyatnya. Idealna, harta atau kemampuan ekonomi, wanita, atau nafsu-nafsu-syahwat (yang mampu membuat manusia survive di bumi). dan tahta atau kekuasaan poliyik yang terjadi akhir-akhir ini, menurut Boni Hargens sebagaibinalitas politik karena politik tidak hanya rakus uabg (harta) dan kekuasaan (tahta) atau banality of politics, tetapi juga haus seks (binality of politics). Ciri banal dan binal dalam politik kita sangat memalukan dan telah menibiskan prinsip moralitas dalam politik yang menunjukan defisit moral pribadi para pejabat politik dan defisit moral poltik secara general. Permainan uang, janji-janji jabatan, dan pelayana seks dalam berpolitik menunjukan indikator dekadensi moral yang amat memprihatinkan.

Seks Dalam Masyarakat Jawa

Masyarakat Jawa memandang perempuan sebagai makhluk indah yang dengan kecantikannya menunjukan sisi keserasian dan keindahan. Menrut falsafah Jawa, perempuan adalah bumi yang subur, yang siap menumbuhkan tanaman. Perempuan adalah bunga yang indah, menebarkan bau harum mewangi dan membuat senang siapa saja yang melihatnya. Wanita ideal dal budaya Jawa digambarkan panyandra. Panyandra merupakan lukisan keindahan, kecantikan, dan kehalusan melalui ibarat.

Membincang seksualitas perempuan Jawa dimulai dari hubungan-hubungan sosial pada masa remaja dalam sitem sosial Jawa yang erat sangkut-pautnya dengan proses tercapainya tingkat kedewasaan biologis. Masalah seks tidak pernah dibicarakan secara terbuka dalam keluarga dan masyarakat Jawa umumnya, meskipun dalam percakapan banyak lelucon mengenai seks. Bahkan, seorang kyai juga sering bercerita tentang seks kepada santri dan umatnya. Pembicaraan dan pengetahuan tentang seks mengalir diantara teman akrab, kawan seprofesi, atau kawan bermain, dan ada juga mendapatkan dari wanita-wanita tunasusila di warung-warung pinggit jalan.

Oleh karena ada rasa tabu dalam pembicaraan seks, orang Jawa memiliki simbol lingga yoni. Lingga mengambarkan falus atau penis, alat kelamin laki-laki. Yoni melambangkan vagina, alat kelamin perempuan. Simbo-simbol ini sudah lama dipakai oleh masyarakt nusantara sebagai penghalusan atau pasemon dari halal yang dianggap jorok. Simbol lain seperti lesung alu, munthuk cobek, dan sebagainya juga bermakna sejenis. Pelukisan seksual dalam khazanah filsafat Jawa dikenal dengan isbat curiga manjing warangka yang arti lugasnya adalah keris masuk kedalam sarungnya.

Dalam melambangkan proses pembuahan ini Hariwijaya mengungkapkannya sebagai berikut.

Manusia dalam kosmologi Jawa berasal dari tirtasinduretna yang keluar saat pertemuan antara linggar yoni, kemudian berkembang menjadi janin dan dikandung dalam gua garba. Tirta sinduretna merupakan lambang dari air mani atau sperma laki-laki. Gua garba merupakan melambangkan untuk menghaluskan fungsi rahimseorang wanita. Proses magis spiritual ini disimbolkan dalam kalimat alegoris bothok bantheng winungkus godhong asem kabitingan alubengkong. Secara harfifah, kalimat tersebut berarti sejenis sambal yang dibugnkus daun asam yang diberi lidi alubengkong. Bothok bantheng berarti sperma ; godhong asem yang diberi lidi alu bengkong. Bothok bantheng bermakna sperma ; godhong asem bermakna kemakluan wanita ; alu bengkong sebagai simbol alat kelamin pria. Dengan demikian, makna adalah bahwa asal-usul manusia berasal dari sperma yang membubuhi sel telur dari rahim wanita yang terjadi dalam proses persenggamaan. Dalam pandangan yang lain istilah dalam bathok bantheng adalah simbol keberadaan zat, hidup manusia ; godhong asem sebagai simbol sifat manusia ; alu bengkong melambangkan tingkah laku. Maknanya, hidup manusia selalu terbungkus oleh sifat dan perilakunya.
Hubungan seksual dalam pandangan Jawa merupakan sesuatu yang luhur, sakral, dan memiliki fungsi untuk menjaga keharmonisan dan kelangsungan hidup manusia. keharmonisan akan beraroma kenimatan tinggi jika menggunakan seluruh tubuh untuk mencari dan mengekspresikan kepuasan stu sama lain. Hubungan seksual demikian adalah seks yang sesungguhnya dan memberi arti yang sangat dalam.

Seks memberikan nilai keharmonisan hidup. Pemenuhan seksual (sexsual fulfilment) adalah suatu hal ketika keduanya mencapai suatu momen yang memabukkan (ectasy). Michael Reiss & J. Mark Halstead, dalam Sex Education menggambarkannya sebagai berikut.

Saya hanya bisa seperti apa bagi seorang pria, namun saya ya….ketika saya dapat mencapai satu macam ikatan, ketika Anada seang bersetubuh dan…….Anda mendekati jiwa pasangan orang lain yang Anda tidak bisa dapatkan dikesempatan lain…. Ketika Anda lihat ke dalam mata pasangan, Anda seperti bisa melihat kedalam jiwa mereka dan itu adalah ikatan-saya rasa, vagina saya menjadi jiwa saya juga… dan ketika kita berhubungan it, seperti menggabungkan dua jiwa, dan itulah bentuk ikatan, lalu sensasi suatu rasa bahwa Anda telah menciptakan kepuasan seksual.

Hubungan seksual jika didasari oleh rasa cinta merupakan pemenuhan spiritual. Hal ini barangkali akan lebih mudah dipahami dalam konteks keagamaan. Dalam ajaran Islam, hasrat jiwa untuk menjadi satu dengan Tuhan biasanya diekspresikan secara simbolik dengan terma cinta manusia dan hasrat seksual. Dalam tasawuf, seks orgasme merupakan jalan menyatukan diri hamba dengan Tuhannya. Oleh karena itu, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki hak-hak untuk dapat menikmati hubungan seks yang mereka lakukan.

Menrut kitab-kitab Jawa Klasik , dalam hubungan seksual itu, unsur laki-laki adalah upaya atau alat untuk mencapai kebenaran yang agung, sedangkan unsur wanita merupakan prajna atau kemahiran yang membebaskan. Dipahami bahwa persenggamaan adalah darma suami terhadap istrinya. Asmaragama ini ditunjukan kepada suami-istri atau sebuah pasangan tetap. Latihan untuk memahami teori seksual ini diperlukan kesungguhan, keajegan, ketenangan batin, dan sakralitas karena seks merupakan ritusl sakralyang hanya boleh dilakukan oleh mereka yang telah mengingatkan diri dengan janji suci perkawinan.

Liberalis Seksual dalam Masyarakat Jawa

Menrut Koentjaraningrat, kebudayaan Jawa berakar di Kraton dan berkembang di Yogyakarta dan Solo. Dalam konteks liberalitas seksual, ada hasil penitian yang menyoroti tentang virginitas yang terasa sangat menggunjang kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan kota buday. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa 97.05% mahasiswa di Yogyakarta telah kehilangan keperawanannya. Nyaris 100% atau secara matematis bisa disepadankan dengan 10 gadis dari 11 gadis sudah tidak perawan yang diakibatkan oleh hubungan seksual. Bukan karena kecelakaan yang memicu robeknya selaput dara vagina. Sebuah kebebasab yang dampaknya membuat semua orang berperadaban merinding tentang akibatnya. Terkait dengan budaya Jawa, apakah free sex tersebut memilki akar budayanya karena Yogyakarta merupakan standar dan acuan budaya Jawa.

Untuk mrnjawab pertanyaan tersebut, penulis sampaikan data yan diambil dari dokumen sastra, yaitu novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Pengambilan data dari buku fiksi dengan alasan ; pertama, bahwa karya sastra merupakan fakta yang difiksikan. Realitas adalah produk dan konstruksi manusia. Pada tingkat paling ketat kita haya dapat mengatakan bahwa fakta itu ada, ykni kenyataan, peristiwa, dan pengalaman yang kompleks, multifaset, senantiasa mengalir, tidak pernah habis terumuskan oleh khazanah pola ungkap manusia (kata, nada, gerak, rupa, dan sebagainya). Oleh karena itu, apa-nya pengalaman atau fakta itu selalu bisa diartikulasikan dengan banyak cara, banyak fiksi, banyak fiksi, banyak ilusi (sains, seni, ilmu-ilmu tradisional, wacana politik, agama, dan seterusnya). Kedua, pada kompetisi Sastra Asia Tenggara ke-3 di Singapura pada tahun 1987 memunculkan perbincangan hangat, mengejutkan, dan mendapatkan tanggapan luas terkait dengan kesimpulan makalah, Mohammad Ridho ‘Eisy, peserta dari Indonesia, seorang pengamat sastra yang bermata tajam dan tinggal di Bandung yang dalam makalahnya ia mengupas novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan buat Emak; Lintang novel trilogi karya Ahmad Tohari tersebut merupakan sebuah novel yang mengandung dakwah Islam. Ketiga, menurut pengakuan oenulisnya bahwa data sejarah dan budaya yang ada dalam tinggi RDP merupakan fakta riil dan pernah terjadi, hanya saja sebagian dari budaya yang itu sudah tidak bisa ditemukan lagi.

Keperawanan dan seks bagi masyarakat yang “berperadaban rendah” di Jawa sebagaimana tergambar dalam Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk menjadi sangat terbuka dan bebas. Free sez yang terjadi saat ini tidak memadai. Diantara persepsi tentang keperawanan dan seks yang terbuka bebas tersebut adalah sebagai berikut.

1. Free seks bagi masyarakat sesuatu yang dalam kondisi tertenu diaggap wajar oleh sebagian masyarakat Jawa, meskipun hanya ditujukan pada perempuan tertentu.

Ketika menonoton Srintil menari aku pernah mendengar percakapan perempuan-perempuan yang berdiri di tepi arena. Percakapan mereka akan jatuh pertama pada lelaki yang memberinya uang paling banyak. “Dalam hal ini sumiku tak bakal dikalahkan”. “Tapi suamimu sudah pikun. Baru satu babak maenari pinggangnya sudah kena encok”. Aku yang lebih tahu tenaga suamiku, tahu?” “Tetapi jangan sombong dulu, aku bisa menjual kambing agar suamiku mempunyai cukup uang. Aku tetap yakin suamiku akan menjadi lelaki pertama mensium Srintil”. “Tunggulah sampai saatnya tiba. Suami siapa yang bakal menang. Suamiku atau suamimu”. Demikian. Seorang ronggeng di lingkungan pentas tidak akan menjadi bahan pencemburuan bagi perempuan Dukuh Paruk. Malah sebaliknya. Makin lama seirang suami bertayub dengan Ronggeng, makin bangga pula isterinya. Perempuan semacam itu puas karena diketahui umum bahwa suaminya seorang lelaki jantan, baik dalam arti uangnya maupun birahinya (RDP-CBE, hal. 38-39).

Dalam kenyataan riil, para istri saat ini juga permisif terhadap perilaku seksual suaminya yang bertentangan dengan agama. Mereka membiarkannya selama tidak menceraikannya dan tidak menikahi perempuan lain. “Silahkan berzina asal tetap kembali pulang sebagai suamiku”, drmikian sikap permisif para istri. Di sisi lain, merka akan memberontak jiwa suaminya beristri lagi secara sah (poligami).

2. Keperawanan bagi perempuan tentu merupakan hal suci yang hanya bisa dipersembahkan pada suami, tetapi bagi orang tertentu seperti ronggeng atau semacamnya keperawanan menjadi alat mewisuda status atau profesi sebagai ronggeng, artis, atau bintang film. Kondisi tersebut diterima bukan hanya oleh laki-laki yang berkeinginan untuk menikmati keperawanan, tetapi juga menjadi alat bagi perempuan untuk menggapai kesenangan hidup glamour. Keperawanan bagi ronggeng dianggap milik umum yang bisa dipersembahkan pada saat bukak-klambu, maka acara seperti ini dipenaskan secara terbuka.

Bukak-klambu adalah semacam sayembara, terbuka bagi laki-laki manapun. Yang disayembarakan adalah keperawanan calon ronggeng. Laki-laki yang dapat menyerahkan sejumlah uang yang ditentukan oleh dukun ronggeng berhak menikmati virginitas itu. Memang Srintil telah dilahirkan untuk menjadi ronggeng, perempuan milik semua laki-laki (RDP-CBE, hal. 38-39).

Secara kontekstual, kebanyakan orang Jawa juga suka lain yang permisif terhadap transaksi seks dan keperawanan (juga keperjakaan) bagi kalangan artis atau selebritis.

3. Keperawanan karena tidak dimaknai sebagai sesuatu yang sakral dan hanya boleh diberikan kepada suami yang sah, maka sebagian masyarakat karena dasar cinta kepada kekasihnya secara sdar melakukan pemberian “hadiah keperawanan” kepada orang yang dicintainya dengan pertombangan dari pada direnggut oleh orang yang tidak diharapkannya. Srintil memberikan keperawanannya kepada Rasus sebagai bukti rasa cinta dan terimakasih kepadanya karena telah diberi sebuah keris Kyai Jaran Guyang. Pertama Srinril mau memberikan keperawanan di tanah perkuburan, dekat makam Ki Secamanggala, saat ini gagal karena Rasus yang juga sudah terangsang teringat bayangan Emaknya dan takut kuwalat karena di tanah perkuburan, dekat makam Ki Secamenggala. (RDP-CBE, hal. 67). Keperawanan Srintil akhirnya jadi diberikan kepada Rasus saat malam bukak-klambu, sebelum keperawan Srintil dibeli oleh Dower dan Sulam sekaligus. (RDP-CBE, hal. 76). Pemberian keperawanan Srintil secara sukarela untuk Rasus, orang yang di cintainya ia lakukan dari pada direnggut oleh Dower dan Sulam, orang yang sama sekali tidak ia kenal yang telah mau membeli dengan harga mahal. Tentang keperawanan Srintil, Rasus mengenangnya.

Dari cara Srintril berbicara, dari caranya duduk disampingku, dan dari sorot matanya, aku tahu Srintil mencatat kejadian di belakang rumah Kartareja itu secara khusus dalam hatinya. Maka aku terpaksa percaya akan kata orang-orang bahwa peristiwa penyerahan virginitas oleh seorang gadis tidak akan dilupakannya sepanjang usia. Juga aku jadi percaya akan kata-kata yang pernah didengarnya bahwa betapapun ronggeng adalah seoarang perempuan. Dia mengharapkan seorang kecintaan. Laki-laki yang datang tidak perlu mengeluarkan uang bila dia menjadi kecintaan sang ronggeng. (RDP-CBE, hal. 88-89).

4. Dalam tradisi tertentu, meskipun secara sembunyi-sembunyi, hubungan seks bebas oleh seseorang dengan tetangganya atau kawannya, dan jika hal ini diketahui oleh istrinya atau suaminya dianggap sebagai kewajaran dan tidak menimbulkan pertengkaran antarsuami atau istri. Rasus mengomentari tentang kondisi desanya.

Lain benar keadannya dengan Dukuh Paruk di sana, seorang suami, misalnya, tidak perlu berkelahi bila suatu saat menangkap basah istrinya sedang tidur bersama laki-laki tetangganya. Suami tersebut tekah tahu cara bertindak lebih praktis; mendatangi istri tetangganya dengan menidurinya. Habis segala urusan! (RDP-CBE, hal. 85).

 

5. Hubungan seks dengan orang lain bahkan mengajarkan pengertian moral tanpa tetek bengek. Buktinya, sipa anak tidak pernah menjadi nilai yang kaku dan pasti, oleh karenanya tidak pernah menimbulkan urusan. Di sana Dukuh Paruk, aku juga tahu ada obat bagi perempuan-perempuan mandul. Obat itu bernama lingga; kependekan dari dua kata yang berarti penis tetangga. Dan obat itu, demi arwah Ki Secamenggala, bukan barang tabu apalagi aneh (RDP-CBE, hal. 86).

6. Hubungan seks juga ada yang digunakan untuk pendidikan dalam rangka persiapan rumah tangga agar si lelaki mampu menjadi suami secara utuh dalam melaksanakan tugas kesehariannya, baik di atas ranjang maupun pekerjaan (sperti pertanian). Pendidikan seperti itu disebut Gowok. Gowok adalah seorang perempuan yang disewa oleh seorang ayah bagi anak laki-lakinya yang sudah menginjak dewasa, dan menjelang kawin. Seorang gowok akan memberi pelajaran lelaki itu banyak ha; perkehidupan berumah tangga. Dari keperluan dapur sampai bagaimana cara memperlakukan isteri dengan baik. Misalmya, bagaimana mengajak isteri kondangan dan sebagainya. Selama menjadi gowok dia tinggal hanya berdua dengan anak laki-laki tersebut dengan dapur yang terpisah. Masa pergowokan biasanya hanya berlangsung beberapa hari, paling lama satu minggu. Satu hal yang tidak perlu diterangkan, tetapt perlu diketahui semua orang adalah hal menyangkut tugas inti seorang gowok, yaitu mempersiapkan seorang perjaka agar tidak mendapat malu pada malam pengantin baru, sebuah sex education dalam arti yang sangat fulgar yang menurut Ahmad Tohari pernah terjadi secara riil ji Jawa (RDP-LKDH, hal. 201).

Ketika memutuskan menerima menjadi gowok bagi Waras maka timbul kesadaran baru bagi Srintil. Bahwa dirinya adalah seorang perempuan dalam falsafah yang amat dalam. Perempuan yang harus mampu berperan banyak di hadapan seorang laki-laki muda yang hampir tersingkir dari identitas kelelakiannya, seorang perjaka yang tumbuh dalam malapetaka kejiwaan. Kesadaran yangtulus yang tumbuh dari hati seorang Ronggeng sejati. Dan kesadaran itu muncul amat besar sebagai warna suatu gerak tari hanya bibaca oleh jiwa yang peka terhadap gelombang batin (RDP-LKDH, hal. 216)

Menjadi gowok adalah menjadi seniman pemangku naluri kelelakian dan menemukannya kembali bila kelelakian itu hilang. Sebuah tradisi yang juga ditolelir pada saat ini meski tanpa ada transaksi seperti gowok. Saat ini proses uji coba sebelum pernikahan dilakukan secara sadar oleh calon mmempelai saat masih pacaran, meskipun banyak juga yang kemudian tidak jadi pernikahannya.

7. Hubungan seks ditolelir dengan orang lain yang menyediakan untuk itu sperti ronggeng. Ronggeng bisa dijadikan alternatif bagi para suami yang tiak mampu menahan hasrat seksual saat istrinya sedang hamil, melahirkan dan nifas sehingga harus libur dalam waktu yang lama.

Tetapi di Dukuh Paruk dama sekali tidak ada masalah kerumahtanggaan. Tak ada seorang suamipun yang merasa rugi oleh kecantikan Srintil. Boleh jadi karena semua orang disana masih terikat dalam tatanan nilai yang tersendiri. Sudah biasa disana seorang istri yang sedang hamil tua atau baru melahirkan menyuruh suaminya meminta jasa kepada \srintil. Nasihat dukun bayi kepada para suami juga bernada sama. “Awas, jangan dulu menjamah isterimu sebelum seratus hari. Mintalah kepada Srintil bila tidak bisa menahan diri. “Pada tahun 1864 Dukuh Paruk tetap cabul, salit, dan bodoh (RDP-LKDH, hal. 227)

Melakukan Hubungan seks dengan perempuan lain saat tidak mungkin dilakukan dengan isterinya merupakan bukti sifat egoisme laki-laki dalam seks. Perempuan diharuskan “libur” sementara ia mencari sasaran lain yang tidak sah. Menurut Ahmad Tohari, dalam kenyataan para priyayi Jawa yang main judi, minum arak, main perempuan, dan minum candu pun kalau mampu tak jadi masalah. Mungkin hanya mencurilah yang dianggap merusak reputasi kepriyayian jawa. Itupun kalau dilakukan secara bodoh daan terang -terangan. Kalau caranya halus yang diambil adalah uang negara. he he he…(Belantik, BLTK,hal.19).

Memperhatikan tujuh kebebasan seks dalam masyarakat jawa tersebut, menurut pandangan Erich From ini merupakan pelarian seseorang dari problem keterpisahan dan ketakbersatu (disunited existence) dengan alam penjara yang mengerikan bagi manusia. manusia selalu amat cemas karena keterpisahan ini. Ia brusaha untuk membebaskan diri dsari penjara mengerikan ini dengan mencari pelaturan diri dengan orang lain dan dunia luar. Problem keterpisahan ini diantaranya di selesaikan dengan cara menenggelamkan diri dari situasi orgiastik diantaranya berupa pengalaman seksual, dengan Orgasme seksual dapat merasakan kepuasan menyatu yang hampir sama dengan terace dan obat bius. Ritus pesta seksual merupakan bagian dari ritus sebagian suku sauku primitif. Pengalaman orgiastik ini membuat manusia mampu bertahan dari derita keterpisahannya, dan untuk menjaga stamina pengalaman ini harus di ulang sebagian indifidu biasanya berusaha mrngatasi problem-problem keterpisahan dengan menggunakan bantuan alkohol danobat bius. menyelesaikan ini pemakaiannya untuk lepas dari perasaan bersalah dan penyesalan dan akan berusaha untuk meningkatkan dan dosis pada waktu berikutnya. penyelesaian lewat hubungan seksual (di luar pernikahan) memiliki efek yang hampir sama dengan pemakaian obat-obata bius atau minuman keras penyelesaian model ini hanya akan menambah rasa keterpisahan karena tindakan yangf da dasari oleh cinta takkan pernah menghubungkan jiwa suatu pasangan dan hanya bertahan dalam sementara waktu

Gelora seksual serintil dan keberaniannya mangajak rasus untuk melakukan hubungan seksual seiring dengan pendapat Erich Fromm bahwa keininan seksual lah yang merupakan manipestasi dari kebutuha dari cinta dan kesatuan berbeda dengan pandangan Freud yang mengatakan bahwa cinta adalah ekspresi atau sublimasi dari dari naluri seklsual karena cinta serintil ingin memberikan keperawanannya tanpa imbal nalik materi pada rasus petualangan orang semacam bambung dalam pemuaan seksualmungkin sesuai dengan pendapat freud yang menganggap bahwa naluri seksual merupakan akibat dari ketergantungan yang terjadi dalam tubuh manusia dimana ketegangan itu selalu mencari jalan keluar sejalan dengan materialisme psikologinya freud menyamakan pemenuhan dan kepuasan seksualitas seseorang sama dengan kesembuhan penyakit gatal. Konsekuensi pandangan Freu ini,masturbasi lebih tepat untuk pemenuhan kebutuhan seksual ini, bukan berhubungan seksual dengan permpuan. hubungan seks antar jenis kelamin lebih didorong oleh kebutuhan untuk memperoleh kesatuan dengan lawan jenis.

Kehidupan ini berpasang-pasangan saling menyempurnakan.

Langit membutuhkan uap air dari bumi untuk membentuk mendung yang akan menurunkan hujan yang menurunkan bumi.

Kelelakian menguat dan menjadi sempurna karena ada keperempuanan. Keperepuanan memperoleh eksistensinya karena ada kelelakianya.

Bahwa dalam ketelanjangannya,laki-laki umumnya adalah manusia biasa dengan naluri kambing jantan,dengan naluri bayi yang merengek,dengan kebelingsatannya yang kadang sebagai pelampiasa rasa tak percaya diri.Ingin di sebut kuasa karena rasa kurang yakin akan guna keberadaanya[RDP-JB, hal 315]

sering dengan pemahaman jawa, menurut Sigmund Frund,dalam teori mengatakan; kaum laki-laki hanya menginginkanseks,nafsu seks muncul dalam diri individu, dan dia selanjutnya berusaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Yang pentig di sini adalah seks, dan bukan individu yang memberikannya . Hasrat
berjimak laki laki banyak berkaitannya dengan fisiologisnya karena laki laki akan menimbun seperma ketika ada gejolak sehingga menuntut untuk memenuhi atau menyalurkannya dengan segera. Sementara itu, hasrat berjimak perempuan lebih banyak berumber pada fisiknya untuk memperoleh kehangatan cumbu rayu dari orang yang di cintainya. Secra fisik tidak ada yang tertimbun sehingga tidak ada yang membutuhkan dangan segera untuk terpenuhi hasratnya.
Penyelewengan terhaadaap hubungan seksual ini banyk terjadi bahkn ada literatur tentang wisaata seks. Perbedaan yang jelas dapat di buat antara wisata seks (seks tourism),
dan seks dalam wisata (seks intourism) wisata seks berhubungan dengan perjalaanaan kesuatu tempat dengan tujuan melakukan seks, biasanya dengan orang lebih muda, dan lebih miskin darinya.
Terkait dengan pelanggaaran terhadap norma hubungan seksual yang di lakukan Olae anggota DPR, penyanyi, dan kontraversi poligami yang dilkukan oleh Dai atau Kiayi,siapapun juga terlepas dari status sosial politik dan ekonomi. Dalam konteks budaya jawa harus di lakukan kontrol dan ”amar ma’ruf nahi mungkar” tetapi tetap menggunakan bahasa daan tataakrama Jawa didasarkan pada niatan mulia dan dengan cara yng baik sehingga yang bersangkutan bisa menjadi baik atau lebih baik tanpa harus meruntuhkan budaya atau sodaraanya sendiri. Ekspos secara besar-besaran dan membabi buta apalagi menghaakimi akan berdampak negatif dan jauh dari prinsip Edukatif. Setiap keputusan yang di ambil Oleh individu ada pertimbangan dan latarbelakang hitorisnya. Klaim dan penghakiman emosional akan meruntuhkan kemanusiaan yng akhir-akhir ini semakin berat untuk di tegakan.

Komentar»

1. tri - Februari 11, 2008

“Rila lamun ketaman,ora getun lamun kelangan”, falsafah jawa ini bermakna bahwa orang itu harus ingat pada saat susah sehingga orang tersebut tidak akan merasa tergoda pada saat dia bahagia. pada hakikatnya falsafah ini mengajarkan untuk tidak lupa pada saat kita mencari sesuatu dengan sulit kemudian setelah dia mencapai bahagia eeh malah melupakan kejadian-kejadian masa lalu “Ciloko karo Seneng kuwi asline kalmbine wong urip” jadi bila kita sudah menjadi kaya janganlah u suka “adigung Adiguna”

2. bagong sri hardjono - November 1, 2008

terima kasih seberat-beratnya asal tidak memberatkan sehingga panjenengan merasa berat dan akhirnya keberatan .

3. wisnu murti wibowo, S.Si - November 18, 2008

Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh, maaf mau tanya apakah program akta-4 di STAIN Purwokerto masih ada? Mohon informasinya, terima kasih, Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

4. Raden Mas WASI TUHA - April 20, 2009

Buat apa ada Pernikahan jikalau sudah terjadi seks sebelum nikah???Sampah WANITA NYA

darunnajah - April 24, 2009

Dalam hal ini kita harus arif dan bijaksana, tidak bisa menilai hanya dari satu sudut pandang. Kesalahan tidak sepenuhnya ada di pihak wanita.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: